Kreatifitas Kearifan lokal Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Agama Kristen
Penulis : Ruslan Sitanggang, S.Pd.K (Guru Agama Kristen)
A.
Pendahuluan
Penelitian ini dilatar belakangi oleh tugas penelitian guna memenuhi persyaratan pelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk guru Agama Kristen sesuai panduan penulisan ilmiah dari Jenri Ambarita (2020) dalam kegiatan Webinar "Meningkatkan Kompetensi PAK Pada New Normal" bekerja sama dengan Webinar IAKN Ambon, FIPK dan PUSPITA IAKN Ambon.
Penelitian dilakukan berdasarkan hasil observasi dan praktik langsung pada proses pembelajaran di kelas I hingga VI Sekolah Dasar Negeri 014 Simpang Tetap Jl. Budi Dharma, Pangkalan Sesai, Kec. Dumai Barat, Kota Dumai Prov. Riau pada mata pelajaran Agama Kristen tahun 2020. Beberapa siswa memiliki beberapa masalah pada saat proses pembelajaran, salah satunya yaitu rendahnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Agama Kristen dan proses pembelajaran daring. Hal tersebut terlihat dari kegiatan belajar mengajar siswa yang cenderung merasa bosan dan melakukan aktifitas di luar pembelajaran Agama. Kondisi ini semakin memprihatinkan sejak siswa mengalami proses belajar dari rumah semenjak Covid-19 pada awal Maret 2020 lalu.
Bagi
lembaga pendidikan, Work from home (WFH)
ini berarti proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang biasanya dilakukan di
ruang-ruang kelas secara langsung sekarang dihentikan sementara waktu dan
digantikan dengan proses belajar mengajar menggunakan sistem online/daring (Aprilia, 2020).
Siswa/siswi
dan guru tetap melaksanakan KBM seperti biasanya, hanya saja dilakukan pada
ruang ruang terpisah di rumah masing- masing. Sepintas lalu mungkin kita
mengira pekerjaan ini gampang untuk dilakukan; dengan cukup punya fasilitasnya
seperti HP dan kuota serta jaringan yang mendukung, maka kegiatan ini pasti
mudah dan bisa dilakukan.
Setelah
beberapa minggu melakukan KBM menggunakan sistem online, semua masalah dan
kendala mulai bermunculan. Di antaranya tidak semua anak sama dalam hal
kepemilikan fasilitas seperti HP; banyak di antara para siswa yang hanya
memiliki HP, sebutlah HP biasa. Selain itu jika pun ada HP, keterbatasan kuota
dan jaringan yang kurang mendukung juga menjadi kendala.
Banyak
di antara sekolah memutuskan hanya memberikan tugas kepada siswa untuk
dikerjakan di rumah selama "libur" akibat wabah Covid-19. Dan, hal
ini juga menjadi keluhan siswa/siswi dan juga orangtua disebabkan tugas/PR yang
diberikan guru terlalu banyak sehingga membebani anak anak.
Pemberian
PR terhadap siswa selama libur juga tidak menjamin bahwa siswa/siswi akan
belajar di rumah. Kebanyakan siswa beranggapan bahwa PR itu bisa dikerjakan
nanti sehingga dibiarkan menumpuk sampai jadwal yang di tetap guru untuk
dikumpulkan baru mereka tergesa-gesa untuk mengerjakannya
Guna
mengatasi permasalahan tersebut, guru dituntut mampu membuat inovasi belajar
yang menyenangkan dengan mengandalkan kreatifitas dalam pembelajaran yang mudah
diakses tanpa menghabiskan banyak kuota seperti WhatsApp, Google meet
dan Zoom meeting. Dalam menciptakan ide kreatif ini, guru dapat
menggunakan berbagai macam metode pembelajaran, salah satunya memberdayakan
kearifan lokal demi menumbuhkan pengenalan dan kecintaan siswa pada alam dan
lingkungan di sekitarnya. Sehingga walaupun diberikan tugas oleh guru, siswa merasa
tertantang untuk mengerjakannya dan tidak menunda waktu pengerjaan tugas.
Diperlukan
adanya kemampuan kreatifitas dari guru untuk menumbuhkan kemampuan kreatifitas
siswa. Kreatifitas siswa akan muncul, apabila guru sebagai nahkoda di dalam
kelas memiliki kemampuan kreatifitas yang memadai. Materi pelajaran yang sudah
disusun dalam silabus, hendaknya dikembangkan dengan baik untuk mencapai tujuan
mata pelajaran Agama Kristen. Kemampuan kreatifitas dengan penemuan atau
penciptaan ide yang baru harus
ditingkatkan. Dalam dunia pendidikan kreativitas merupakan hal yang sangat
penting dalam memahami suatu pelajaran atau memaknai dari semua kegiatan yang
akan dilakukan. Untuk itulah pengembangan kreativitas sebaiknya dilakukan sejak
dari usia dini atau dari Sekolah Dasar. Dengan kreativitas yang baik, maka
siswa akan dapat tumbuh menjadi pribadi yang berani dalam berekspresi untuk
keluar dari zona nyamannya menciptakan hal yang baru. Hal ini juga akan
mengasah kepekaan, kemampuan nalar dan berinteraksi dengan sesama dan
lingkungannya.
Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode
penelitian tindakan kelas dan penelitian literatur yang berkaitan dengan
kreativitas dalam pembelajaran. Tujuan utama adalah mamacu guru untuk melakukan
tindakan dalam menangani permasalahan dalam proses pembelajaran khsusnya yang
berhubungan dengan kreatifitas dengan kearifan lokal. Sedangkan yang menjadi
subjek penelitian ialah siswa kelas I hingga kelas VI SD dengan rincian sebagai
berikut: kelas I SD berjumlah 4 orang, kelas II SD berjumlah 4 orang, kelas III
SD berjumlah 1 orang, kelas IV SD berjumlah 3 orang, kelas V SD berjumlah 4
orang, kelas VI SD berjumlah 3 orang. Total siswa 19 orang. Objek penelitian
adalah kreativitas kearifan lokal dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
pada Pembelajaran Agama Kristen pada pertemuan 18 dari total pertemuan 20.
B.
Kajian Pustaka
Penelitian
ini didasari dari penelitian serupa dari
penelitian sebelumnya dengan judul Upaya Pembentukan Akhlak Peserta Didik
Dengan Model Pembelajaran Bandongan oleh Dedi Wahyudi Rani Hidayaturohma pada
jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 2018 (Hidayaturohma, 2018). Penelitian ini didasari
dengan permasalahan peserta didik khususnya di tingkat pendidikan dasar yang
mengikuti proses pembelajaran model bandongan. Bandongan yaitu sebagaimana
sudah diketahui bahwa metode ini menggunakan sebuah sistem duduk melingkar
dengan guru berada di sekeliling peserta didik, dan masih menggunkan cara
tradisional yang sangat klasik pada zamannya. Penelitian ini dibuat karena
banyaknya dikenalnya model pembelajaran yang begitu banyak dan variatif, akan
tetapi masih kurang bertahan lama pada era saat ini. Ada kesamaam pada tujuan dan
metode yang digunakan pada penelitain selanjutnya yakni untuk mengupayakan
proses pembentukan akhlak peserta didik agar lebih baik dan dapat menjadi titik
acuan dalam mengajarkan mata pelajaran akidah akhlak dengan metode pengambilan
model pembelajaran ini yakni dengan studi pustaka dan juga studi lapangan.
Kajian
pustaka yang kedua dengan judul Pengembangan Kemampuan Kreativitas Dalam
Pembelajaran oleh Desi Budiarti pada Jurnal Pendidikan ekonomi 2015 (Budiarti, 2015). Dalam penelitian
ini mengemukakan bahwa pembelajaran IPS masih berada pada tataran teori saja
dimana pengajar cenderung hanya memberikan materi teori sehingga siswa hanya
dipacu untuk menghapal tanpa memahami. Proses pembelajaran yang dilakukan di
dalam kelas, menunjukkan bahwa betapa pembelajaran di sekolah masih belum bisa
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa secara maksimal, khususnya
kemampuan berpikir kreatif dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari yang
dihadapinya. Maka, kemampuan kreatifitas guru dibituhkan demi menumbuhkan
kemampuan kreatifitas siswa. Kreatifitas siswa akan muncul, jika guru berekspresi
dengan ragam kreatifitas yang memadai. Materi pelajaran yang sudah disusun dalam
silabus, hendaknya dikembangkan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan
IPS yang sesungguhnya. Penelitian ini memaparkan langkah-langkah metode
pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas dengan tujuan mengingkatkan
berpikir kreatif pada siswa sekalipun pada pendahuluan tidak dibahas metode dan
tujuan penelitian secara jelas.
C.
Metode
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas dan
penelitian literatur yang berkaitan dengan kreativitas dalam pembelajaran.
Tujuan utama adalah mamacu guru untuk melakukan tindakan dalam menangani
permasalahan dalam proses pembelajaran khsusnya yang berhubungan dengan
kreatifitas dengan kearifan lokal. Sedangkan yang menjadi subyek penelitian
ialah siswa kelas I hingga kelas VI SD.
D.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
D.1.
Pelajaran Agama Kristen
Dalam
pelajaran di sekolah, terdapat berbagai macam ilmu yang bermanfaat untuk
dipelajari oleh siswa Sekolah Dasar, salah satunya ialah Pelajaran Agama
Kristen. Sejak kecil, siswa sebagai anak di dalam keluarga sudah diajarkan
pendidikan agama oleh orang tua. Selain itu siswa juga diajarkan pendidikan
agama di sekolah. Tapi sayangnya zaman ini masih banyak yang tidak suka
mempelajari ilmu agama dan mengikuti pembelajaran secara online. Proses
belajar mengajar selama daring dinilai kurang efektif (Kamil, 2020). Jaringan
internet yang terbatas menjadi alasan bahwa tidak semua murid sanggup untuk
membeli paket data sehingga menjadi hambatan dalam mengakses pembelajaran (Aprilia, 2020).
Dengan
memperdalam ilmu agama siswa akan menemukan hal yang sangat penting dalam
kehidupannya sebagai pribadi ciptaan (Dekirty, 2019). Sebab, dengan
memperdalam ilmu agama maka siswa akan mendapatkan manfaat yang baik bagi
kehidupannya. Ada beberapa manfaat yang akan didapatkan saat memperdalam ilmu
agama yakni :
1.
Nilai kebaikan
Setiap
agama pasti selalu mengajarkan kebaikan. Mempelajari ilmu agama dapat membuat
siswa menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan menjadi pribadi yang baik, maka
siswa akan memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Selain itu jika siswa
berbuat baik kepada siapapun, maka siswa akan mendapatkan kebaikan juga dari
orang lain.
2.
Terhindar dari Dosa
Setan
selalu membisikkan manusia agar selalu berbuat dosa. Dengan mempelajari ilmu
agama, siswa akan terhindar dari perbuatan dosa. Karena siswa akan tahu
larangan apa saja yang dapat menimbulkan dosa. Sebab perbuatan dosa tidak hanya
dapat menuntun siswa menuju kesesatan saja. Perbuatan dosa akan menuntun siswa menuju
pintu neraka. Terkadang siswa sering menemukan orang yang jarang beribadah dan jika
demikian bisa dikatakan kalau siswa tersebut jarang mengingat Tuhan. Padahal siswa
tidak bisa hidup kalau bukan karena kehendak Tuhan. Oleh karena itu, pendidikan
agama akan mengajarkan siswa untuk taat beribadah. Dengan begitu, siswa akan
selalu mengingat Tuhan.
3.
Belajar Bersyukur
Pada
dasarnya, manusia memang memiliki sifat yang tidak mudah puas. Dengan adanya
pendidikan agama, siswa selalu diajarkan untuk selalu bersyukur dalam
kehidupan. Bila siswa mendapat banyak rezeki, hendaklah siswa bersyukur dan
tidak sombong. Lalu bila siswa sedang mendapat musibah, siswa juga harus
bersyukur sebab Tuhan masih perhatian kepada siswa. Saat manusia sedang diuji
oleh Tuhan, terkadang manusia tidak ikhlas. Memang ikhlas merupakan hal yang
sulit untuk dilakukan. Agama mengajarkan kita untuk selalu ikhlas dengan
keadaan apapun. Saat mendapat ujian hidup dari Tuhan, siswa diajarkan ikhlaskan
dan pasrah kepada Tuhan. Sebab Tuhan menguji umatnya untuk meningkatkan derajat
sebagai manusia.
D.2. Proses Belajar di Kelas
Dalam
pemaparan hasil penelitian yang diperoleh selama proses pembelajaran di kelas
akan peneliti bahas dalam empat poin penting yakni yang pertama adalah tentang kondisi
awal pembelajaran Agama Kristen sebelum diterapkannya kreatifitas kearifan
lokal, kedua tentang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan kreatifitas
kearifan lokal, ketiga tentang peningkatan motivasi belajar siswa setelah
melalui kreatifitas kearifan lokal melalui tindakan yang dilaksanakan di kelas
I hingga VI dan keempat tentang keunggulan dan kendala serta solusi proses
pembelajaran Agama Kristen dengan menggunakan kreatifitas kearifan lokal.
Kondisi
awal pembelajaran Agama Kristen sebelum diterapkan kreatifitas kearifan lokal
sangat pasif. Siswa hanya mengerjakan tugas yang diberikan guru pada setiap
tema dan sub tema yang dilakukan di dalam setiap pertemuan. Akibatnya kurang
ada interaksi antar siswa dan guru selain kegiatan mengerjakan dan mengumpulkan
tugas tertulis yang diberikan dan kemudian di kumpulkan melalui perangkat WhatsApp
selama pembelajaran online.
Proses
pembelajaran demikian tentu jauh dari pembentukan proses berpikir kreatif oleh
siswa. Sementara, siswa yang kreatif akan mampu mencari jalan keluar bagaimana
agar dia tetap dapat membantu orang tua tanpa harus berhenti sekolah. Hal
tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Treffinger dalam (Budiarti, 2015) bahwa “dengan
belajar secara kreatif siswa dapat menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk
memecahkan masalah-masalah yang tidak diramalkan sebelumnya”.
Peneliti
kemudian tergerak untuk mengadakan yang baru dengan konsep kreatif menggunakan
kearifan lokal. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan kreatifitas
kearifan lokal terbukti mendorong siswa untuk mengenal lingkungan sekitarnya
sehingga menumbuhkan kepedulian untuk merawat lingkungan sekitarnya. Pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan kreatifitas kearifan lokal juga dapat mendidik
siswa untuk peka terhadap lingkungannya, termasuk sesamanya manusia. Hal ini
dilihat dari antusiasme siswa dalam foto dokumentasi yang dikirimkan sebagai
bukti pengerjaan tugas. Hasil karya yang dilakukan siswa beraneka ragam dengan
gaya dan kreativitas masing-masing.
Guru
sebagai pendidik dalam hal ini dituntut untuk bersedia melakukan terlebih
dahulu segala karya yang akan dibuat oleh siswa. Dengan demikian siswa bisa
mencontoh, meneladani, dan berkreasi secara lebih nyata. Dalam menumbuhkan
kreativitas siswa melalui pengamatan dalam proses pembelajaran, kesediaan guru untuk
mengorbankan tenaga, materi, waktu, pemikiran dan kelihaian dalam proses
pendampingannya menjadi poin utama dan kunci dari keberhasilan program.
Keunggulan
dari program ini adalah melibat siswa secara langsung untuk berkreasi mulai
dari mencari dan mengumpulkan bahan dari alam, merakit karya dan mendokumentasikan
karya yang sudah dihasilkan. Tentu ada berbagai macam kendala yang dihadapi oleh
siswa sehingga menyebabkan berbagai kendala misalnya keterlambatan dalam
pengumpulan tugas dikarenakan signal internet, kesiapan tugas dan berbagai
alasan lainnya. Kendala pada guru adalah harus mengeluarkan tenaga yang ekstra,
materi yang ektra, waktu yang ektra, dan pemikiran serta kelihaian yang ektra dalam
berkarya memberikan contoh bahan karya untuk ditiru oleh anak sebagai pedoman.
D.3.
Kreativitas Kearifan Lokal
Kearifan
berasal dari kata arif. Menurut himpunan makna yang termuat dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, arif memiliki dua makna yang berkesinambungan, yaitu tahu
atau mengetahui. Sedangkan makna yang kedua adalah cerdas , pintar, dan
bijaksana. Secara etimologi, Kata arif yang jika diimbuhi awalan “ke” dan
akhiran “an” yang kemudian membentuk kata kearifan yang bermakna kebijaksanaan,
kecerdasan sebagai sesuatu yang dibutuhkan dalam proses berinteraksi dengan
lingkungan.
Definisi
kearifan lokal jika dilihat dari Kamus Inggris Indonesia, Kearifan lokal
berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) dan lokal (local).
Wisdom berarti kebijaksanaan dan local berarti setempat. Dalam arti yang lain local
wisdom atau kearifan lokal yaitu gagasan, nilai, pandangan setempat (local)
yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan
diikuti oleh anggota masyarakatnya.
Kearifan
lokal di berbeda- beda dalam dimensi wilayah dan waktu tertentu. Perbedaan
kearifan local di masing- masing wilayah disebabkan oleh tantangan kondisi alam
dan beragamnya kebutuhan hidup, sehingga pengalaman dalam tujuan pemenuhan
kebutuhan, akan memunculkan berbagai sistem pengetahuan, baik lingkungan alam
maupun sosial.
Pengertian
kearifan lokal yang lain yakni, kearifan lokal merupakan bagian dari budaya
suatu masyarakat yang tidak bisa dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri.
Kearifan lokal umumnya diwariskan secara turun temurun melalui cerita dari
mulut ke mulut. Kearifan lokal berada dalam cerita rakyat, peribahasa, lagu dan
permainan rakyat. Kearifan lokal ialah sebagai pengetahuan yang ditemukan
masyarakat lokal tertentu melalui kumpulan pengalaman dalam mencoba dan
diintegrasikan dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan alam suatu tempat.
Quaritch
Wales dalam (Seputar Pengetahuan, 2020) menjelaskan bahwa
local genius atau kearifan lokal berarti kemampuan budaya setempat dalam
menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu
berhubungan.
Haryati
Soebadio dalam (Seputar Pengetahuan, 2020) mengatakan bahwa
local genius adalah juga culture identity, identitas/kepribadian budaya bangsa
yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing
sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi (1986) dan Saragih (2013)).
Undang-Undang
No. 32 Tahun 2009 dalam (Seputar Pengetahuan, 2020) memberikan
pengertian tentang kearifan lokal, yaitu nilai-nilai luhur yang berlaku dalam
tata kehidupan masyarakat antara lain untuk melindungi dan mengolah lingkungan
hidup secara lestari.
S.
Swars dalam (Seputar Pengetahuan, 2020) menyatakan bahwa
secara konseptual, kearifan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang
bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara, dan perilaku yang
melembaga secara tradisional. Kearifan lokal adalah nilai yang dianggap baik
dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama, bahkan melembaga.
Phongphit
dan Nantasuwan dalam (Seputar Pengetahuan, 2020) menyatakan
kearifan lokal sebagai pengetahuan yang berdasarkan pengalaman masyarakat
turun-temurun antargenerasi. Pengetahuan ini menjadi aturan bagi kegiatan
sehari-hari masyarakat ketika berhubungan dengan keluarga, tetangga, masyarakat
lain dan lingkungan sekitar.
Berdasarkan
definisi kearifan lokal tersebut, pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
kreatifitas kearifan lokal dilaksanakan melalui tiga tahapan, pada setiap
siklus siswa selalu diberikan tugas untuk membuat kreatifitas kearifan lokal
yang berhubungan dengan tema dan sub tema dalam pembelajaran. Sebelum
mengerjakan tugas dalam menciptakan karya kreatifitas lokal, siswa akan diajak
untuk membaca tema dan sub tema pembelajaran pada hari itu berdasarkan buku
pelajaran siswa dengan judul Kearifan lokal Dalam Meningkatkan Motivasi
Belajar Siswa Pada Pembelajaran Agama Kristen (Napitupulu, 2018). Siswa akan
diarahkan untuk membaca melalui instruksi dan panduan yang diberikan melalui WhatsApp
sebagai media komunikasi yang terjangkau.
Setelah
mendalami tema dan sub tema pembelajaran, siswa akan diajak mengaitkan dengan
bacaan Alkitab sesuai dengan tema. Dengan demikian, siswa mampu mendalami teks
alkitab yang mendasari tema dan sub tema pada setiap pertemuan. Setelah itu,
siswa akan diberikan tuga kreativitas yang menggunakan kearifan lokal dengan
memanfaatkan alat dan bahan yang ada disekitarnya yang akan dikumpulkan melalui
kegiatan dokumentasi berupa foto dan video yang juga dikirimkan melalui
aplikasi WhatsApp sebagai persyaratan penilaian.
Alat
dan bahan yang sudah tersedia di alam akan mempermudah siswa dalam mengerjakan
tugas yang diberikan oleh guru. Adapun contoh alat dan bahan yang dengan konsep
kearifan lokal yang tersedia di Dumai, Riau adalah beberapa tumbuhan yang dapat
dengan mudah dijumpai misalnya pohon kelapa, pohon pinang, rumput, kacang
hijau, daun ubi dan masih banyak lagi yang tersedia di alam dan di sekitar.
Dengan demikian, siswa akan dekat dengan lingkungan sekitarnya dan mengetahui
secara langsung alat dan bahan yang dimaksud. Alat dan bahan yang sudah
dipaparkan tersebut merupakan alat dan bahan yang sudah digunakan dalam
beberapa kali pertemuan sehingga sudah dibuktikan efektif dalam realisasinya.
D.4.
Hasil Praktik Siswa
Kreatifitas
Kearifan lokal Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SDN 014 Dumai Dalam
Pelajaran Agama Kristen
Senin,
2 November 2020
Kelas
1 : Keluargaku Hidup
Rukun
Sub
Tema -
Aku sayang keluarga
-
Bermain bersama (membuat palungan)
Ayat
Alkitab: Mazmur 133
Tugas
Siswa : - Membuat
Palungan Yesus
Alat
dan Bahan : Daun
kelapa hijau 10-15 helai, pisau/gunting, tali plastik/ benang sebagai
perekat
Cara
Membuat :
-
Gunting daun kelapa dengan panjang yang
sama
-
Ikat dan bentuk daun kelapa hijau
menyerupai palungan Yesus dari ujung yang satu ke ujung yang lain menggunakan
tali plastik/ benang.
-
Setelah palungan terbentuk, foto hasil
karya dan kirimkan kepada guru untuk penilaian
Keterangan
: Siswa mendokumentasikan hasil karya palungan bersama
anggota keluarga yang lain (ayah, ibu, kakak maupun adik) dan dikirim kepada
guru melalui WhatsApp untuk penilaian
Kelas
2 : Tanggungjawabku di Sekolah
-
Mendengarkan cerita, bermain peran,
menempelkan gambar
Ayat
Alkitab : Matius 25 : 14-30
Tugas
Siswa : - Membuat
Palungan Yesus dan Bintang Kejora
Alat
dan Bahan : Daun
kelapa hijau 10-15 helai, pisau/gunting, tali plastik/ benang sebagai perekat
dan stepler
Cara
Membuat :
Palungan
Yesus
-
Gunting daun kelapa dengan panjang yang
sama
-
Ikat dan bentuk daun kelapa hijau
menyerupai palungan Yesus dari ujung yang satu ke ujung yang lain menggunakan
tali plastik/ benang.
-
Setelah palungan terbentuk, foto hasil
karya dan kirimkan kepada guru untuk penilaian
Bintang
Kejora
-
Gunting daun kelapa dengan panjang yang
sama dengan kedua buah sisi di potong runcing
-
Satukan hasil potongan menyerupai bintang
menggunakan stepler
-
Tambahkan benang sebagai pengait pada bintang lalu tempelkan di pohon natal
atau di bagian yang anda sukai
Keterangan
:
Siswa mendokumentasikan hasil karya palungan dan bintang Kejora dan dikirim
kepada guru melalui WhatsApp untuk penilaian
Kelas
3 : Allah Pencipta Keragaman Fauna
-
Flora dan fauna saling membutuhkan fauna
di lingkunganku, membaca alkitab dengan guru
Ayat
Alkitab : Mazmur 104: 14
Tugas
Siswa : - Membuat
Palungan Yesus
Alat
dan Bahan : Daun
kelapa hijau 20-30 helai, rumput ilalang, pisau/gunting, tali plastik/ benang
sebagai perekat
Cara
Membuat :
Palungan
Yesus
-
Gunting daun kelapa dengan panjang yang
sama
-
Ikat dan bentuk daun kelapa hijau
menyerupai palungan Yesus dari ujung yang satu ke ujung yang lain menggunakan
tali plastik/ benang.
-
Tambahkan rumput di pada kerangka palungan
daun kelapa yang sudah ada (boleh di bagian dalam dan luar)
Keterangan
:
Siswa mendokumentasikan hasil karya palungan dan dikirim kepada guru melalui
WhatsApp untuk penilaian
Kelas
4 : Allah Sumber
Kekuatanku
-
Mendalami alkitab, mimpi tentang masa
depan
Ayat
Alkitab : Mika 7: 7-20
Tugas
Siswa : - Membuat Lampu
Natal
Alat
dan Bahan :
Tempurung kelapa, dua buah kaleng bekas, Isolasi, satu buah sumbuh kompor,
pisau/gunting, minyak tanah
Cara
Membuat :
-
Potong kaleng yang pertama dengan bentuk
sisi menyerupai persegi dengan pajang sisi 5 cm
-
Bolongkan pada bagian tengahnya sehingga
sumbuh kompor bisa masuk
-
Isi kaleng yang kedua dengan minyak tanah
-
Masukan sumbuh yang paling panjang ke
dalam kaleng yang berisi minyak
-
Biarkan minyak merambat naik ke atas
-
Belah kedua batok kelapa dan gunakan satu
sisi saja
-
Masukkan kaleng yang berisi sumbuh dan
minyak ke dalam tempurung
-
Gunakan isolasi agar kaleng menempel pada
bagian tempurung
-
Hias sisi tempurung menggunakan daun
kelapa
-
Nyakalan sumbuh menggunakan korek api
Keterangan
:
Siswa mendokumentasikan hasil karya lampu natal dan dikirim kepada guru melalui
WhatsApp untuk penilaian
Kelas
5 : Pengampunan
Allah
-
Memahami pengampunan Allah menghayati
makna pengampunan
Ayat
Alkitab : Mazmur 103:8
Tugas
Siswa : - Membuat
palungan dari lidi kelapa
Alat
dan Bahan :
Lidi kelapa hijau 30-50 helai, pisau/gunting, tali plastik/ benang sebagai
perekat
Cara
Membuat :
-
Potong lidi sama panjang
-
Rakitlah menyerupai palungan Yesus dari
ujung yang satu ke ujung yang lain menggunakan tali plastik/ benang.
Keterangan
:
Siswa mendokumentasikan hasil karya palungan dan dikirim kepada guru melalui
WhatsApp untuk penilaian
Kelas
6
: Bersyukur Senantiasa
-
Mendalami cerita alkitab memahami tujuan
bersyukur, makna bersyukur, menghayati hidup dipenuhi rasa syukur belajr dari
nyanyian
Ayat
Alkitab : Keluaran 15:1-21
Tugas
Siswa : - Membuat
Mahkota daun kelapa dan alat musik botol dari kacang hijau
Alat
dan Bahan : Daun
kelapa hijau 30-50 helai, kacang hijau, kaleng bekas, pisau/gunting, tali
plastik/ benang sebagai perekat dan isolasi
Cara
Membuat :
Mahkota
-
Potong daun kelapa sama panjang
-
Potong bagian sisi yang lain dengan bentuk
segitiga
-
Rakit dan gabungkanlah beberapa helai daun
menyerupai mahkota menggunakan tali plastik/ benang.
Alat
musik botol
-
Isi botol kosong dalam keadaan kering
dengan kacang hijau
-
Tutup pada bagian sisi yang bolong
menggunakan isolasi
-
Bunyikan alat musik sesuai nyanyi yang
dibawakan
Keterangan
:
Siswa mengenakan hasil karya mahkota di kepala, bernyanyi lagu tema natal
sambil membunyikan alat musik botol, direkam dan dikirim kepada guru melalui
WhatsApp untuk penilaian dengan durasi 3-5 menit.
D.5.
Motivasi Belajar Siswa
Motivasi
berasal Bahasa latin yaitu kata movere yang memiliki arti dorongan di dalam
diri seseorang untuk dapat bertindak sehingga mencapai tujuan tertentu.
Motivasi adalah hasrat, dorongan dan kebutuhan seseorang untuk dapat melakukan
aktivitas tertentu. Sehingga motivasi diartikan sebagai kekuatan yang mendorong
tindakan menuju suatu tujuan.
Motivasi
belajar dalam diri seseorang akan menimbulkan gairah atau meningkatkan semangat
dalam belajar. Motivasi belajar mengandung usaha untuk mencapai tujuan belajar
yaitu pemahaman materi dan pengembangan belajar. Selain itu, motivasi belajar
adalah sebuah penggerak atau pendorong yang membuat seseorang akan tertarik
kepada belajar sehingga akan belajar secara terus-menerus.
Motivasi
belajar yang rendah dapat menimbulkan dampak negatif bagi siswa, Motivasi
belajar yang rendah dapat menyebabkan rendahnya keberhasilan dalam belajar
sehingga akan merendahkan prestasi belajar siswa.
Motivasi
belajar dalam diri siswa satu dengan siswa yang lain berbeda, ada siswa yang
memiliki motivasi belajar tinggi dan ada juga siswa yang memiliki motivasi
belajar rendah. Motivasi belajar yang rendah dapat menyebabkan rendahnya
keberhasilan belajar siswa. Lemahnya motivasi belajar akan melemahkan prestasi
belajar dan melemahnya kegiatan belajar.
Peserta
didik yang kurang memiliki motivasi belajar ditandai dengan:
a.
Tidak antusias dalam belajar.
b.
Lebih senang berada diluar kelas atau membolos
c.
Cepat merasa bosan
d.
Mengantuk
e.
Pasif.
Maka
untuk menghindari hal di atas, proses belajar kreatif menggunakan kearifan
lokal diharapkan dapat memenuhi indikator motivasi belajar siswa yang meliputi:
a.
Ketekunan dalam belajar
b.
Minat dan ketajaman perhatian dalam belajar
c.
Ulet dalam menghadapi kesulitan
d.
Mandiri dalam belajar
e.
Keinginan berhasil dalam belajar
f.
Reward/pujian/penghargaan.
Proses
belajar kreatif menggunakan kearifan lokal telah memenuhi tiga komponen pada
motivasi belajar, yaitu:
a)
Komponen Harapan
Harapan
dengan keyakinan diri siswa mengenai kemampuan siswa dalam memahami materi
belajar dan dalam mengerjakan tugas.
b)
Komponen Nilai
Komponen
nilai mencakup tujuan belajar siswa dan kepercayaan tentang arti belajar dan
arti mengerjakan tugas.
c)
Komponen Afektif
Komponen
afektif berhubungan terhadap reaksi emosional siswa ketika siswa menghadapi
tugas dan pembelajaran.
E.
Kesimpulan, Implikasi dan Rekomendasi
E.1.
Kesimpulan
Peningkatan
motivasi belajar siswa melalui kreatifitas kearifan lokal, melalui tindakan
yang dilaksanakan di kelas I hingga VI menghasilkan dampak positif, karena
siswa dituntut untuk membaca dan memahami materi pelajaran, mendalami teks
alkitab dan menghasilkan karya dengan menggunakan kreatifitas kearifan lokal.
Dengan
demikian, siswa dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pelajaran
agama dan semakin mengenal dan peduli pada lingkungan sekitar. Siswa lebih
memahami konsep dan juga dapat mengingat kembali konsep-konsep yang ada dalam
materi pembelajaran sehingga siswa mampu menemukan pemahaman yang lebih
mendalam melalui praktik yang dilakukan.
Guru
sebagai pendidik harus bersedia melakukan terlebih dahulu segala karya yang
akan dibua oleh siswa sehingga siswa bisa mencontoh, meneladani, dan berkreasi
secara lebih nyata. Dengan demikian dituntut kesediaan guru dalam mengorbankan
tenaga, materi, waktu, pemikiran dan kelihaian dalam proses pendidikan cara
berpikir kreatif tersebut.
Keunggulan
proses pembelajaran Agama dengan menggunakan kreatifitas kearifan lokal yakni
meningkatnya motivasi, minat membaca dan rasa ingin tahu siswa terhadap
pembelajaran Agama Kristen.
E.2.
Implikasi
Keterlibatan
guru dalam pembuatan contoh kreativitas menggunakan kearifan lokal akan
meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga guru harus lebih kreatif daripada
siswa. Dengan demikian dibutuhkan keterbukaan guru dalam mencoba ragam inovasi
sehingga proses belajar kreatif tercapai dengan baik.
E.3.
Rekomendasi
Minimnya silabus mengenai panduan dalam pengajaran proses kreatif dalam memanfaatkan kearifan lokal membawa kesulitan tersendiri bagi guru sebagai pendidik untuk menciptakan metode pembelajaran sehingga sebaiknya Kementerian pendidikan bisa memfasilitasi guru dalam program pelatihan demi meningkatkan kualitas sebagai pendidik. Ada baiknya juga dalam kegiatan pelatihan yang dilakukan, ragam kreativitas guru disatukan dalam satu buku panduan karya dan didokumentasikan sebagai panduan dalam proses pembelajaran selanjutnya. Hal itu juga bisa mempemudah tugas kementerian pendidikan, tenaga dinas pendidikan dalam melakukan evaluasi terhadap guru sebagai pendidik dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Lampiran Hasil Karya
Palungan dan bintang kejora dari daun kelapa
Siswa kelas II berfoto bersama orangtua
Lampu Natal dari tempurung kelapa
Siswa kelas IV
Lampu Natal dari tempurung kelapa
Siswa kelas IV
Palungan Natal dari Lidi
Siswa kelas V
Mahkota dari daun kelapa dan alat musik botol dari kacang hijau
Siswa kemudian bernyanyi lagu natal dengan alat musik botol
Siswa kelas VI
**** **** **** **** **** **** ****
DAFTAR PUSTAKA
Ambarita, Jenri. 2020. “Penulisan Artikel Ilmiah.” Blogspot.com.
https://jenriambarita.blogspot.com/2020/11/hiduplah-apa-adanya-seperti-apa-kamu.html
(November 7, 2020).
Aprilia, Iras. 2020. “Belajar ‘Online’ Tak Semudah yang
Dibayangkan.” Newsdetik.com.
Budiarti, Desi. 2015. “Pengembangan Kemampuan Kreativitas
Dalam Pembelajaran.” Jurnal Pendidikan Ekonomi 3.
Dekirty, Xehi. 2019. “5 Manfaat yang Akan Didapat Saat
Memperdalam Ilmu Agama.” Idntimes.com.
https://www.idntimes.com/life/inspiration/xehi-dekirty/manfaat-memperdalam-ilmu-agama-c1c2/5
(November 8, 2020).
Hidayaturohma, Dedi WahyudiRani. 2018. “Upaya Pembentukan
Akhlak Peserta Didik Dengan Model Pembelajaran Bandongan.” Elementary Jurnal
Ilmiah Pendidikan Dasar 4.
Kamil, Irfan. 2020. “Belajar Online Tak Efektif, Kemendikbud
Disarankan Fungsikan Radio.” Kompas.com.
https://nasional.kompas.com/read/2020/08/04/13043611/belajar-online-tak-efektif-kemendikbud-disarankan-fungsikan-radio?page=all
(November 8, 2020).
Napitupulu, Robinson dan Veronica Hematang. 2018. Pendidikan
Agama Kristen dan Budi Pekerti. ed. Kedua. Jakarta: Kemendikbud.
Seputar Pengetahuan. 2020. “Kearifan Lokal Adalah :
Pengertian Menurut Ahli, Ciri, Fungsi, Ruang Lingkup, Bentuk dan Contohnya.” Seputar
Pengetahuan.co.id.
https://www.seputarpengetahuan.co.id/2020/07/kearifan-lokal-adalah.html (November
8, 2020).









